Perusahaan Hulu Migas Masih Menunda Buat Ekspansi

Perusahaan Hulu Migas Masih Menunda Buat Ekspansi

ILUSTRASI. Eksplorasi minyak Pengusaha Nasional Medco E&P Indonesia pada bahari Editor: Handoyo .

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah perusahaan yg beranjak di sektor hulu migas lagi menikmati berkah menurut tingginya harga minyak global yang saat ini nyaris mencapai US$ 120 per barel. Meskipun memperoleh kinerja yg baik, nir dan-merta membuat perusahaan hulu migas jor-joran mengeluarkan dana buat ekspansi. 

Melihat laporan keuangannya, sejumlah perusahaan migas mencatatkan kinerja yg cemerlang pada awal tahun 2022. 

PT Medco Energi Internasional Tbk mencatatkan keuntungan bersih naik sampai lebih menurut menjadi US$ 90,51 juta pada kuartal I 2022 dari yg sebelumnya US$ 3,9 juta pada kuartal I 2021. Pada periode ini perusahaan berkode MEDC pada Bursa Efek Indonesia (BEI) ini jua turut mencatatkan EBITDA sebesar US$ 313 juta atau naik lebih dari dua kali lipat berdasarkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Baca Juga: Suhbholding Upstream Pertamina Eratkan Hubungan Bilateral menggunakan Perusahaan Aljazair

Profit Medco Energi Internasional naik tinggi karena ditopang harga minyak homogen-rata US$ 100/bbl atau 70% lebih tinggi tahun-ke-tahun berdasarkan sebelumnya US$ 59/bbl. Adapun harga penjualan rata-rata gas merupakan US$ 7,7/mmbtu atau 35% lebih tinggi tahun-ke-tahun menurut sebelumnya US$ 5,7/mmbtu.

Pendapatan yg diraih MEDC jua meningkat 58% yoy sebagai US$ 489,34 juta menurut yang sebelumnya US$ 301,94 juta di kuartal I 2021. Di athun baru ini pendapatan berdasarkan kontrak menggunakan pelanggan naik 63% yoy sebagai US$ 478,84 juta. 

Roberto Lorato, CEO MEDC mengungkapkan Medco Energi Internasional mengawali tahun 2022 dengan sangat baik.

“Ini berkat kinerja operasional dan keuangan yang bertenaga, memungkinkan Perseroan menaruh pedoman dividen baru buat mengapresiasi dukungan berkelanjutan dari pemegang saham kami,” jelasnya Kamis (16/6).

Sampai menggunakan Maret 2022,  MEDC mencatatkan produksi minyak & gas meningkat secara signifikan sebanyak 127 mboepd atau naik 26% tahun-ke-tahun. Adapun pro forma produksi migas sebanyak 184 mboepd menggunakan  biayaproduksi sebanyak US$ 8,0 per boe.

Kinerja yg cemerlang pada awal tahun ini pula diraih oleh Shell. Melansir liputan resmi Shell dalam kuartal I 2022 pihaknya mencatatkan pendapatan senilai US$ 9,13 miliar atau naik berdasarkan sebelumnya US$ 3,23 miliar pada kuartal I 2021. Sejalan menggunakan Pengusaha Rembang kenaikan pendapatan, Shell  mencatatkan EBITDA yang disesuaikan tumbuh sebagai US$ 19 miliar atau naik dibandingkan kuartal IV 2021 yg senilai US$ 16,tiga miliar. 

Baca Juga: Indonesia Memacu Produksi Migas, Lapangan Tua Butuh Investasi

Kenaikan kinerja keuangan ini ditopang segmen gas terintegrasi senilai US$ 4,09 miliar, disusul segmen upstream US$ 3,45 miliar, kemudian chemicals & products senilai US$ 1,16 miliar, & sisanya berdasarkan segmen lainnya. 

Saat ditanya mengenai dampak kenaikan harga minyak global terhadap kegiatan usaha Shell di Indonesia, VP Corporate Relations Shell Indonesia, Susi Hutapea mengatakan, pihaknya akan terus mencermati perkembangan yg terdapat terkait harga minyak global. 

“Kami terus mengevaluasi dampaknya terhadap kegiatan bisnis perusahaan,” jelasnya kepada Kontan.co.id, Jumat (17/6)

Di ketika yg sama, Shell Indonesia juga tetap berfokus buat menaruh produk & layanan terbaik bagi para pelanggan. 

Setali tiga uang, Exxon Mobil Corp pula mencatatkan kinerja keuangan yang baik di athun baru ini. Melansir laporan keuangannya di kuartal I 2022, Exxon Mobil Corp mencatatkan total pendapatan senilai US$ 5,48 miliar atau naik berdasarkan yang sebelumnya US$ 2,73 miliar di kuartal I 2021. Khusus pada segmen upstream, pihaknya mencatatkan pendapatan senilai US$ 4,48 miliar atau naik dari yang sebelumnya US$ dua,55 miliar pada kuartal I 2021. 

Sekjen Aspermigas, Moshe Rizal mengatakan, kenaikan harga minyak dunia waktu ini memang berdampak baik dalam pendapatan (revenue) perusahaan hulu migas. Tetapi, naiknya pendapatan tadi ditopang tingginya harga minyak global bukan karena berdasarkan sisi performa misalnya mengerek kapasitas produksi atau investasi. 

“Dari sisi pendapatan memang bagus tetapi perusahaan migas justru berhati-hati dalam investasi terutama di sektor hulu. Penyebabnya, meskipun harga minyak memang tinggi ketika ini akan tetapi pergerakannya sangat fluktuatif, ini yg menambah ketidakpastian,” jelasnya saat dihubungi terpisah. 

Sejak beberapa tahun terakhir, memang terjadi penurunan investasi hulu migas pada Indonesia. Selain itu produksi migas cenderung turun sebagai akibatnya perusahaan saat ini sedang pada fase menjaga produksi yang ada. 

Di sisi lain, tantangan terbesar yang diihadapi industri hulu pada Indonesia adalah lapangan migas yang sudah tua (mature). 

Baca Juga: Transisi Energi Terbarukan Secara Global Belum Terwujud

“Lapangan yang telah tua itu membutuhkan porto lebih besarbuat meningkatkan produksinya, tidak dan merta mampu naikin produksi. Harus ada teknologi tambahan, analisa tambahan buat mengetahui bagaimana cara yang sempurna naikin produksi. Ujung-ujungnya memerlukan porto yang lebih akbar sedangkan pembiayaan lagi ketat,” kentara Moshe. 

Hal ini sebagai masalah bagi perusahaan migas lantaran pada saat harga tinggi tentu pelaku usaha ingin menaikkan produksinya, namun kendalanya berdasarkan dana buat membiayai produksi itu. Sektor migas memang dikenal sebagai bisnis yang berisiko tinggi & perlu investasi yg akbar pula. 

Tidak hanya soal lapangan migas yg mature, dengan adanya situasi dunia saat ini di mana baru terselesaikan pandemi & terjadi perang Rusia-Ukraina menciptakan gejolak pada mana-mana. Perihal agenda transisi ke energi yg lebih bersih jua menjadi tekanan tersendiri bagi industri migas yg dituntut supaya kegiatan bisnisnya rendah emisi. 

“Pada pada dasarnya, meskipun kinerja perusahaan yang berkecimpung di sektor hulu migas sedang bagus, mereka akan jauh lebih berhati-hati pada berinvestasi lantaran sudah pengalaman waktu 2008 dan 2014 saat harga minyak dunia sempat tinggi kemudian lalu turun & stagnan di level kisaran US$ 30 per barel,” ujarnya.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Dukungan Anda akan menambah semangat kami buat menyajikan artikel-artikel yang berkualitas & berguna.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai bantuan yg mampu digunakan berbelanja pada KONTAN Store.

Leave a Reply