Manajemen Kualitas Pada Proyek Konstruksi *

Manajemen Kualitas Pada Proyek Konstruksi *

Oleh : Budiartho Saada;  Dosen : Ir. Hary Agus Rahardjo, MBA, Ph.D

Dalam pelaksanaan pembangunan konstruksi di Indonesia, ditemui banyak kegagalan konstruksi (failure constructions) menggunakan penyebabnya salahsatunya dampak pelaksanaan konstruksi yang nir sinkron dengan standar kualitas yg ditetapkan. Kejadian runtuhnya jembatan kukar (samarinda) yang terbaru, rusak & runtuhya beberapa bangunan sekolah yang baru pada bangun, dan lain sebagainya menerangkan masih rendahnya kepedulian terhadap pelaksanaan konstruksi yg memenuhi kualitas yang diperlukan. Dan dari hasil penyelidikan, kegagalan konstruksi poly disebabkan karena nir diterapkannya standar kualitas aplikasi konstruksi & nir sesuainya mutu output pekerjaan yang mana secara generik nir Jasa Konstruksi mengikuti arahan mutu sebagaimana diatur pada dokumen spesifikasi teknis masing-masing pekerjaan.

Dalam aplikasi proyek konstruksi, sasaran pengelolaan proyek (project management) disamping porto dan jadwal merupakan pemenuhan persyaratan mutu. Dalam hubungan ini, suatu alat-alat, material & cara kerja diangap memenuhi persyaratan mutu bila dipenuhi seluruh persyaratan yang ditentukan pada kriteria dan spesifikasi. Dengan demikian, instalasi/bangunan yg dibangun atau produk yang didapatkan, yang terdiri berdasarkan komponen alat-alat & material yang memenuhi persyaratan mutu, bisa dibutuhkan berfungsi secara memuaskan selama kurun ketika eksklusif atau dengan istilah lain siap buat dipakai (fitness for use). Dan untuk mencapai tujuan tadi secara efektif & ekonomis tidak hanya dibutuhkan inspeksi di tahap akhir sebelum diserahterimakan (FHO) kepada pemilik proyek/konsumen, namun pula dibutuhkan serangkaian tindakan sepanjang siklus proyek mulai berdasarkan penyusunan acara, perencanaan, pengawasan, pemeriksanaan & pengendalian mutu. Kegiatan tersebut dikenal dengan penjaminan mutu (Quality Assurance-Jasa Konstruksi medan QA).

Dan paper ini dimaksudkan untuk memberi citra bagaimana aplikasi manajemen kualitas pada proyek konstruksi & aplikasi penjaminan mutu (Quality Assurance-QA) supaya output aplikasi konstruksi bisa memenuhi tujuan secara efektif & irit dan memenuhi persyaratan mutu, bisa diharapkan berfungsi secara memuaskan selama kurun waktu tertentu atau menggunakan kata lain fitness for use.

Dalam arti yang luas “mutu” atau “kualitas” bersifat subyektif. Suatu barang yg amat bermutu bagi seseorang belum tentu bermutu bagi orang lain. Oleh karenanya, global bisnis dan industri mencoba memberikan batasan yang dapat diterima sang kalangan yang berkepentingan, contohnya ISO 8402 (1986):[1]

“Mutu adalah sifat dan karakterisk produk atau jasa yang membuatnya memenuhi kebutuhan pelanggan atau pemakai (customers).”

Sementara definisi lain buat mutu yg acapkali diasosiasian dengan proyek merupakan fitness for use. Istilah ini disamping mempunyai arti seperti yang diuraikan diatas, jua memperhatikan masalah tersediaya produk, kehandalan & kasus pemeliharaan.

Definisi diatas tentunya akan sangat bervariasi tergantung dalam masing-masing bidang bisnis juga industri. Akan namun secara umum terdapat 4 (empat) spektrum mutu/kualitas yakni kualitas perencanaan (quality rencana), pemantauan kualitas (quality control), jaminan kualitas (quality assurance) dan pengembangan kualitas (quality improvement).[2]

Manajemen mutu/kualitas mengadopsi beberapa prinsip-prinsip manajemen[3], yg dapat diterapkan dalam zenit manajemen perusahaan buat menjadi panduan bagi organisasi dalam membuatkan kinerja organisasi. Beberapa prinsip tadi adalah menjadi berikut:Fokus dalam harapan konsumen (customer focus)

Suatu perusahaan dapat menjaga & berbagi konsumennya, bilamana perusahaan dapat mengerti & memahami tuntutan & kebutuhan konsumen waktu ini & mendatang, sehingga berusaha memenuhi kebutuhan & mencoba memenuhi ekspetasi konsumen adalah kuncinya.Kepemimpinan (Leadership)

Para pemimpin pada setiap unit pada suatu organisasi perusahaan (penyedia jasa konstruksi) menyiapkan & diarahkan buat berbagi budaya kualitas. Mereka harus bisa mengkreasikan dan memelihara budaya kualitas dalam setiap lingkungan internal yang dipimpinnya, mendorong setiap anggota timnya buat mencapai tujuan perusahaan yakni pencapaian sasaran kualitas/mutu pekerjaan, & pada hal ini mencapai mutu/kualitas pekerjaan konstruksi.Pengembangan Individu (Involvement of people)

Setiap individu baik karyawan juga pemimpin pada setiap level perusahaan jasa konstruksi wajibmemahami budaya manajemen kualitas. Setiap individu wajibberusaha berbagi segala kemampuan & kemungkinan yg dapat digunakan bagi keuntungan perusahaan.Pendekatan proses (Process approach)

Hasil yg tidak baik bisa dikurangi apabila setiap kegiatan & kebutuhan asal daya (insan, material/bahan/alat, saat) dikelola pada suatu organisasi perusahaan menjadi suatu proses.Pendekatan Sistem Pada Manajemen (System approach to management)

Suatu organisasi perusahaan bisa efektif dan efisien dalam berbagi target & tujuan mutu/kualitas yg adalah donasi menurut termin identifikasi, pemahaman dan pengelolaan seluruh proses yang saling terkait menjadi suatu sistem.Terus Berkembang (Continual improvement)

Salah satu target tujuan kualitas/mutu secara tetap dari suatu organisasi merupakan terus membuatkan kinerja pencampaian mutu seluruh aktivitasnya.Perumusan Keputusan Berdasarkan Pendekatan Fakta (Factual approach to decision making)

Keputusan-keputusan yg efektif merupakan beranjak dari berdasarkan analisis data dan berita yang benar.Membangun Hubungan yg Saling Menguntungkan dengan Suplier (Mutually beneficial supplier relationships)

Sejak hubungan antara suatu perusahaan (penyedia jasa konstruksi) & supliernya adalah interdependent, maka perlu dikembangkan hubungan yang saling menguntungkan diantara keduanya buat memungkinkan pengembangan mempertinggi value keduanya.

8 (delapan) prinsip dasar ini berbasis pada Quality Management System (QMS) standard pada ISO 9001:2008.[4]

Pengelolaan mutu (Quality Management) bertujuan mencapai persyaratan mutu proyek pada pekerjaan pertama tanpa adanya pengulangan (to do right things right the first time) menggunakan cara-cara yang efektif & ekonomis. Pengelolaan mutu proyek konstruksi adalah unsur menurut pengelolaan proyeks secara keseluruhan, yg antara lain adalah menjadi berikut:Meletakan dasar filosofi & kebijakan mutu proyekMemberikan keputusan strategis tentang hubungan antara mutu, porto & jadwalMembuat acara penjaminan dan pengendalian mutu proyek (QA/QC)Implementasi Program QA/QC.

Gambar 1 menunjukkan hubungan dan pembentukan program QA perusahaan, program QA Proyek, dan QC proyek yang merupakan unsur-unsur pengelolaan mutu proyek.

Sumber     : Soeharto Iman, “Manajemen Proyek: Dari Konseptual sampai Operasional”, Editor Yati Sumiharti, Cet.tiga Jakarta Erlangga, 1997.

Perlu pula dipahami bahwa penanganan masalah mutu dimulai semenjak awal hingga proyek dinyatakan terselesaikan. Pada priode tersebut penyelenggaraan proyek dibagi sebagai pekerjaan khusus, yang lalu diserahkan pada masing-masing bidang/unit sinkron keahlian. Jadi semua pihak mempunyai tanggung jawab yang sama buat menjaga kualitas/mutu, apabila melaksanakan tugasnya menggunakan benar dan sempurna menurut segi mutu. Atau dengan kata lain wajibselalu berorientasi kepada mutu.

Penjaminan mutu (QA) adalah seluruh perencanaan dan langkah sistematis yang diperlukan buat memberikan keyaknian bahwa instalasi atau sistem yang akan diwujudkan dapat beroperasi secara memuaskan. Sedangkan pengendalian mutu (QC) adalah bagian berdasarkan penjaminan mutu yg menaruh petunjuk dan cara-cara buat mengendalikan mutu material, struktur, komponen atau sistem agar memenuhi keperluan yg sudah ditentukan.

Jadi Pengendalian Mutu (QC) meliputi tindakan-tindakan yang berupa: pengetesan, pengukuran & pemeriksaan apakah kegiatan-kegiatan engineering/konstruksi dan aktivitas lainnya telah memenuhi & sinkron dengan kriteria yang digariskan. Dalam konstruksi kriteria ini berupa SNI, maupun baku internasional yg berlaku buat setiap bahan & pekerjaan konstruksi, misalnya acuan-acuan pada aplikasi konstruksi mencakup sebagai berikut:

NI-2                            Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI) 1997.

NI-tiga                            Peraturan generik buat Bahan Bangunan Indonesia

NI-5                            Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (PKKI)

NI-8                            Semen Potland

SNI 03-1750-1990           Mutu & Cara Uji Agregat Beton.

SNI 15-2049-1990           Mutu & Cara Uji Semen Portland.

SNI 03-2052-1990          Baja Tulangan Beton.

SNI 03-6861.1-2002         Spesifikasi air sebagai Bahan Bangunan.

Leave a Reply